Resna Cooking Story

Monday, May 14, 2018

Resep dan Cara Membuat Set Menu Mie Baso Tasik Homemade : Bakso Halus, Cincang Ayam, Mie dan Kaldu

Oleh Resna Nata

    
  Jika bercerita tentang kuliner di Jawa Barat, tak lengkap rasanya jika tidak membahas Mie Bakso Tasik.  Sebenarnya trade mark mie bakso Tasik awalnya melekat pada rasa mie bakso yang banyak dijual oleh warga keturunan Tionghoa.  Dengan aroma yang khas, perpaduan kaldu, minyak wijen dan kecap ikan dalam takaran yang mild, berpadu dengan rasa saus khas yang sekarang lebih dikenal dengan sebutan saus bawang.  Tekstur bakso nya halus,kenyal dan 'kering', mienya pun dibuat  sendiri, ditambah taburan cincang ayam.  Tambahan yang ditawarkan biasanya irisan babat dan pangsit rebus.  Mie baso sejenis ini bisa ditemui di gerai mie baso Laksana, Sari Rasa, SR dan beberapa lainnya.  Pemilik gerai mi baso ini sudah tidak lagi didominasi warga keturunan tionghoa, namun banyak orang asli setempat memiliki gerai mi baso dengan citarasa sejenis ini.

        Mie bakso khas Tasikmalaya ini bisa disajikan dalam bentuk sajian mie bakso kuah yakni semua komponen mie bakso diletakkan dalam satu mangkok, juga bisa disajikan secara terpisah komponen padat dan kuahnya, yang disebut mie bakso yamien.  Mie bakso yamien bisa dipesan dalam dua jenis, yakni yamien asin dan yamien manis,  mie baso yamin asin yang memiliki rasa mirip seperti sajian bakmi terkenal, Bakmi GM dan mie bakso yamien manis yang tersaji dengan warna kecoklatan karena penambahan kecap manis.

      Dalam perkembangannya, mie bakso Tasik sekarang dilekatkan pada beragam jenis bakso, tak hanya bakso yang halus tapi juga bakso urat, bakso dengan beragam isian bahkan dengan beragam ukuran.  Rasa kuahnya pun tidak lagi identik dengan minyak wijen, tapi masih ada satu kesamaan, selalu tersedia saus bawang dengan aroma yang khas.  Rasa mie bakso nya berasimilasi dengan bakso yang dulunya disebut bakso Kampung atau bakso lainnya.  Yang termasuk jenis ini adalah mie baso gejrot Mawar, mie baso Rinceu, mie baso Firman dan lain lain.

      Sekitar sepuluh tahun lalu saya pernah ditawari eks karyawan sebuah Mie Bakso terkenal resep bakso plus kursus singkat yang harus ditebus dengan harga dua juta rupiah.  Saya tidak tertarik dan tidak mengambil tawaran tersebut.  Sekarang saya tidak tahu berapa harga standar resep dan kursus bakso tasik tersebut.

     Lama lama terbersit keinginan membuat mie bakso Tasik sendiri, sayangnya saya tidak tahu lagi dimana tempat tinggal Bapak eks karyawan Bakso tersebut tinggal.  Selain itu dengan semakin beragamnya rasa khas Mie Bakso Tasik, saya jadi percaya diri membuat versi homemade yang saya buat dengan berkali kali proses coba-gagal.
 
     Kelebihan mie bakso homemade adalah adanya control atas bahan – bahan yang dipergunakan.  Saya belum menemukan resep saus bawang yang menurut saya layak saji.  Jadi kali ini saya menyampaikan resep mie bakso Tasik homemade  minus saus bawang.

     Mie bakso Tasik adalah sajian yang sangat banyak printilannya.  Saran saya jika ingin membuat mie bakso Tasik di rumah (dan hanya memiliki waktu yang singkat di rumah), buatlah masing – masing komponennya secara bertahap, misalnya bakso terlebih dahulu, kemudian cincang ayam, dilanjut biang kaldu.  Semua komponen tersebut bisa disimpan terlebih dahulu dalam freezer, dan menurut pengalaman saya, kondisinya masih sangat bagus hingga dua minggu.

1.        RESEP BAKSO HALUS

     

Sebenarnya resep awal baksonya dapat dari akun instagram 
@fitrisasmaya yang beberapa bagiannya saya modifikasi. Di resep aslinya ada bahan putih telur yang terbukti membuat bakso nya jadi kres kres, tapi pernah beberapa kali saya buat, tidak kebetulan, putih telurnya memiliki bau amis yang kuat mempengaruhi aroma bakso nya, jadi belakangan putih telurnya saya skip saja, tetap kenyal kok, asal menggiling adonan bakso nya sampai benar benar jadi pasta dan suhu adonan selama proses penggilingan terjaga tetap super duper dingin.  Namun jka ingin memakai putih telur, bisa ditambahkan putih telur dari 1 butir.  Dan perlu dicermati suhu saat penggilingan adonan harus terjaga tetap dingin, karena saya pernah membuat baso yang tidak terjaga suhunya, alhasil adonan berubah warna menjadi kecoklatan, dan jika sudah begini jangan berharap akan menghasilkan bakso yang kenyal.  Jika suhu diluar shopper terasa kurang dingin, volume es batu nya bisa ditambahkan.

Bahan :
300 gram daging sapi
50 ml air yang dibekukan
1 sendok teh garam
1/4 sendok teh gula pasir
6 siung bawang putih, kupas, iris, goreng sampai harum
1/4 sendok teh merica bubuk
1/2 sendok teh baking soda
3 sendok makan munjung tepung tapioka Pa Tani

Cara menbuat :
1. Potong kecil - kecil daging sapi, masukkan ke dalam chopper bersama setengah bagian es batu, garam, gula pasir, bawang putih goreng, merica dan baking soda. Haluskan.
2. Masukkan tepung tapioka dan sisa es batu, haluskan kembali hingga menjadi pasta (saya memasukkan tepung tapioka terakhir karena chopper yang digunakan daya tampungnya kecil, jika kapasitas tampung choppernya besar bisa dilakukan sekaligus).
3. Didihkan air, lalu matikan. Cetak bakso dengan tangan dibantu sendok, masukkan ke dalam air panas, lakukan sampai habis.
4. Rebus bakso hingga mengapung, angkat.

2.       RESEP CINCANG AYAM 

      Sepertinya mudah membuat cincang ayam, namun ternyata saya perlu beberapa kali gagal sebelum mendapatkan cincang ayam yang layak saji.  Dari mulai cincang yang sedikit berlendir karena lemaknya ikut terbawa hingga aroma lemak yang sedikit mengganggu.  Ternyata kunci mendapat cincang ayam yang kering dan memiliki aroma yang enak terdapat pada proses awal pengolahan ayam sebelum dibumbui.  Ayam diberi perasan jeruk nipis terlebih dahulu untuk menghilangkan aroma yang membuat enek, kemudian dikukus agar lemaknya larut, turun ke dasar dandang, terpisah dari ayamnya.  Setelah matang, didinginkan baru disisir dan dicincang.  


Bahan

400 gram fillet ayam, lumuri perasan 1 buah jeruk nipis, diamkan satu jam, cuci bersih, kukus, suwir, cincang

Bumbu halus
6 siung bawang putih (kali ini ukuran siungnya besar besar)
1/4 sendok teh merica
1/4 sendok teh pala

1/2 sendok teh garam
1/2 sendok teh gula pasir
1/2 sendok teh kaldu bubuk (kali ini pakai rasa sapi)
50 ml minyak untuk menumis
200 ml air

Cara membuat
1. Panaskan minyak, tumis bumbu halus hingga harum
2. Masukkan air sampai mendidih. Masukkan cincang ayam, garam, gula pasir dan kaldu bubuk. 
3. Cicipi dan sempurnakan rasanya. Aduk terus sampai airnya kering. Angkat.

              3.  RESEP KALDU BAKSO

Bahan :
Tulang iga (lengkap dengan daging dan lemak)
Air
Bawang putih geprek (atau bawang putih yang diiiris tipis dan digoreng, lebih wangi)
Seujung sendok teh merica bubuk
Garam
Gula pasir
Kaldu sapi bubuk (saya pakai merk knorr)

Cara Membuat
1. Blansing terlebih dahulu tulang iga.  Didihkan air, masukkan  tulang iga, rebus hingga berbuih (kurang lebih 15 menit).  Buang air rebusannya
2. Rebus air, rebus kembali tulang iga yang telah diblansing.  Super kecilkan apinya, rebus selama 2 jam.
 3. Masukkan bawang putih, garam, gula dan kaldu bubuk.  Cicipi dan sempurnakan rasanya.

4.       RESEP MIE MENTAH

   

Bahan :
150 gram tepung terigu protein tinggi Cakra Kembar
50 gram tepung tapioka Pa Tani
2 butir telur ukuran kecil
1/2 sendok teh garam
2 sendok makan minyak sayur
2 sendok makan air (jika belum menggumpal bisa ditambah)

Cara membuat :
1. Campur semua bahan mie, uleni dengan tangan hingga menggumpal. Istirahatkan sebentar.
2. Bagi adonan 4 bagian, siapkan cetakan mie.
3. Pasang knop pengatur ketebalan mie pada posisi 5 (adonan mie nya agak alot, jika langsung pakai ukuran yang lebih tipis, menggilingnya berat), giling semua bahan mie pada ketebalan ini.
4. Ubah knop pengatur ketebalan mie pada posisi 2, giling kembali bahan mie. Bahan mie yang sudah digiling pada ketebalan ini langsung taburi tepung terigu tipis - tipis, setelah itu cetak pada pencetak mie. (Mie yang digiling tanpa taburan tepung, mudah saling lengket kembali)
5. Sebelum disajikan, mie direbus dengan air mendidih sampai mengapung.

5.       BAHAN TAMBAHAN

Irisan tipis daun bawang
Acar Timun bening
Saus Bawang
Sambal Cabai rawit

      Mie Bakso Tasik bias disajikan lengkap dalam satu mangkok dengan kuahnya, ataupun dibuat dengan kuah terpisah dalam versi Yamin Manis atau Yamin Asin.  Sayangnya saya masih belum bias lepas dari chicken/ beef stock powder yang kemungkinan masih ada unsure monosodium glutamatnya (msg) meski  pure msg  nya saya tiadakan.

1.     SAJIAN MIE BAKSO KUAH

Bumbu :

Garam
Merica
Kaldu bubuk rasa sapi(saya pakai merk knorr)
Minyak wijen
Kecap ikan (saya pakai merk Djoe Hoa)
Minyak bawang (saya pakai minyak bekas menggoreng bawang merah untuk taburan)

Cara menyajikan

1. Tuang bumbu ke dalam mangkok.
2. Rebus mie, tuang ke dalam mangkok berbumbu
3. Masukkan bakso, cincang ayam, irisan tipis daun bawang, siram dengan kuah

2.       SAJIAN MIE BAKSO YAMIN MANIS


Bumbu :

Kecap manis
Garam
Merica
Kaldu bubuk rasa sapi (saya pakai merk knorr)
Minyak wijen
Kecap ikan
Minyak bawang (saya pakai minyak bekas menggoreng bawang merah untuk taburan)

Cara menyajikan

      1        Tuang bumbu ke dalam mangkok.
      2.       Rebus mie, tuang ke dalam mangkok berbumbu.  Aduk rata
      3.       Masukkan cincang ayam, irisan tipis daun bawang.
      4.       Di mangkok terpisah, masukkan bakso, dan daun bawang, tuang kaldu.

3.       SAJIAN MIE BAKSO YAMIN ASIN

Bumbu :

Garam
Merica
Kaldu bubuk rasa sapi (saya pakai merk knorr)
Minyak wijen
Kecap ikan
Minyak bawang

Cara menyajikan :

1.    Tuang bumbu ke dalam mangkok.
2.    Rebus mie, tuang ke dalam mangkok berbumbu.  Aduk rata
3.    Masukkan cincang ayam, irisan tipis daun bawang.
4.    Di mangkok terpisah, masukkan bakso, dan daun bawang, tuang kaldu.

Wednesday, January 10, 2018

Sajian Masakan Khas Sunda Dengan Bahan Oncom : Resep dan Cara Membuat Ulukutek Leunca Dan Pais Oncom

Oleh : Resna Nata

     Oncom adalah (bahan) makanan berbahan kacang tanah yang telah melewati proses fermentasi.  Meski diterpa berbagai informasi 'miring' terkait kandungan kapang/jamur yang tumbuh di dalamnya, oncom tetap banyak diminati.  Informasi tentang kemungkinan sifat karsinogenik dalam jamur oncom tidak membuat makanan ini kurang peminat.  Mungkin karena faktanya oncom sudah dikonsumsi selama sekian lama (beratus tahun mungkin) tanpa menimbulkan masalah sementara informasi mengenai kandungan karsinogenik dalam jamurnya ini baru muncul belakangan.

     Setahu saya makanan berjamur dengan nama oncom hanya terdapat di Jawa Barat.  Oncom berbahan kacang tanah, di luar Jawa Barat terdapat berbagai makanan berjamur dengan bahan dasar yang berbeda, di luar tempe tentunya.  

     Oncom bisa diolah menjadi beragam olahan makanan, baik sebagai pendamping nasi ataupun menjadi bahan pelengkap dalam pembuatan aneka kudapan khas Jawa Barat seperti sorabi (serabi) ataupun leupeut (arem - arem) atau yang paling terkenal tentu saja comro.  Saya pernah menyajikan resep leupeut isi oncom maupun comro sebelumnya.  Kali ini saya akan mencoba menyajikan masakan pendamping nasi berbahan oncom yang populer di Jawa Barat yakni Ulukutek Leunca dan Pais Oncom.

     Bagi saya, hal yang menarik dalam memasak oncom adalah menaklukkan aroma jamur yang melekat pada oncom.

     Di pasat tradisional biasanya tersedia beberapa jenis oncom yang ditawarkan pedagang dengan berbeda penyebutan tentu saja.  Yang paling terkenal tentu saja oncom yang dinamai "Oncom Bandung" tentu saja.  Oncom jenis ini memiliki butiran kacang tanah yang besar - besar sehingga rasanya lebih gurih, oncom jenis ini cock untuk masakan tumis maupun pepes seperti ulukutek leunca atau pais oncom seperti yang akan saya sajikan kali ini.  Yang selanjutnya ada jenis oncom lain yang di Tasikmalaya dikenal dengan nama "Oncom Kasandra", tidak jelas mengapa oncom jenis ini dinamai Kasandra.  Hanya saja secara fisik, oncom jenis ini butiran kacangnya nyaris tidak terlihat, halus sekali dan sangat mudah terurai, sehingga oncom jenis ini cocok untuk taburan pada sajian nasi tutug oncom, penjual nasi tutug oncom rata - rata menggunakan oncom jenis ini.  Dan terakhir ada juga jenis oncom lain yang butiran kacangnya lebih kecil, saya tidak tau secara lebih spesifik, tapi pedagang biasanya menyebutnya "Oncom Biasa".

     Saya biasanya menemukan ulukutek leunca dan pais oncom di warung makan - warung makan kecil.  Namun sekitar tahun 2008 an, saya pernah juga mencicipi ulukutek leunca di sebuah rumah makan terkenal di Kota Bandung pada waktu itu, yakni Rumah Makan Bumbu Desa.

1.  Resep dan Cara Membuat Ulukutek Leunca

     Ulukutek (atau ada juga yang menyebutnya bolokotok) Leunca adalah makanan yang sangat "Sunda".  Masakan ini lebih enak dibuat dengan cita rasa pedas (meski kali ini saya membuatnya dengan citarasa 'mild').  Untuk yang ingin membuat Ulukutek namun sulit mendapatkan oncom, bisa saja digantikan tempe.

Dan inilah resep Ulukutek Leunca ala Resna :

Bahan :
100 gram (kurang lebih) oncom
200 garm leunca
250 ml santan dari 1/4 butir kelapa

Bumbu Halus :
4 butir bawang merah
2 siung bawang putih
1 buah bcabai merah (buang biki)
2 cm kencur
1 cm jahe
1/4 sendok teh terasi
1/2 sendok teh garam
1 sendok makan gula pasir
Minyak sayur untuk menumis

Bumbu cemplung :
1 lembar daun salam
1 batang serai (potong 3 bagian)
2 mata asam jawa
irisan cabai merah/hijau
cabai rawit utuh

Cara Membuat :
1.  Potong - potong oncom ukuran kurang lebih 1x1x1 cm atau bisa juga dihaluskan.  Petik leunca dari tangkainya.
2.  Panaskan minyak, tumis bumbu halus hingga harum.  Masukkan salam,serai, asam jawa dan santan hingga mendidih.  Masukkan oncom.
3.  Masak hingga airnya berkurang (asat), masukkan irisan cabai.
4.  Terakhir masukkan oncom, aduk rata.  Angkat

Leunca adalah makanan yang sangat mudah matang, untuk mendapatkan tingkat kematangan yang pas (tidak over cook). leunca dimasukkan terakhir dan dimasak sebentar saja (asal empuk).

2.  Resep dan Cara Membuat Pais Oncom

     Di Tasikmalaya, makanan ini dikenal dengan nama Pais Oncom.  Tapi saya pernah baca makanan jenis ini di daerah Cirebon dikenal dengan nama "Pepes Dage".  Padahal di daerah Priangan Timur (Garut - Tasikmalaya - Ciamis - Banjar - Pangandaran) yang dinamakan dage adalah makanan fermentasi berbahan dasar Galendo (bagian padat yang dihasilkan dari proses produksi minyak kelapa).  Jadi Pais Dage di daerah Priangan Timur adalah pepes fermentasi galendo yang diolah dengan bumbu khas (yang paling lekat dalam ingatan adalah adanya irisan halus batang serai di dalamnya), sedangkan untuk makanan berbahan oncom disebut "Pais Oncom" saja.

     Oh,ya saya mempunyai pengalaman 'keliru' ketika membuat Pais Oncom, yakni tidak membasahi adonan oncom, sehingga setelah melewati proses pengukusan, oncom tetap kering seperti masih mentah.  Setelah saya bertanya pada ibu saya, saya baru tahu bahwa sebelum dikukus, oncom harus disiram (diciprati jika sedikit) air panas, sayangnya ibu tidak memberikan takaran presisi (sepertinya semua masakan rumah made in ibu rumah tangga memang rata - rata tidak diukur secara presisi, semua "by feeling" dan "based on experience" hehe...), jadinya saya perkirakan sendiri saja....

Dan inilah resep Pais Oncom based on experience nya Resna :

Bahan :
100 gram (kurang lebih) oncom
1 ikat kemangi (kurang lebih 8 tangkai), petik daunnya saja
25 ml (kurang lebih) air panas
Daun pisang untuk membungkus (saya buat 6 bungkus kecil)

Bumbu Halus :
3 butir bawang merah
1 siung bawang putih
2 cm kencur
1 buah cabai merah (buang biji)
cabai rawit sesuai keinginan
1/2 sendok teh garam
2 sendok teh gula aren

Bumbu Iris :
2 lembar daun salam (bagi 3)
1 batang serai (bagi 6)

Cara membuat :
1.  Campurkan oncom, daun kemangi dan bumbu halus.  Masukkan air panas, aduk rata.
2.  Siapkan daun pisang, letakkan irisan daun salam dan serai.  Sendokkan adonan oncom.
3.  Bungkus menyerupai lontong kecil.  Semat kedua ujungnya.
4.  Kukus sampai matang (kurang lebih 40 menit). 

Thursday, October 19, 2017

Sajian Hari Raya Idul Adha : Resep dan Cara Membuat Sate Maranggi Khas Purwakarta

Oleh : Resna Nata
     Biasanya jika ada perbincangan di kalangan ibu - ibu tentang daging sapi pembagian qurban saat hari raya Idul Adha, selalu dilengkapi dengan penilaian tentang daging yang didapatkan.  Komentar yang paling sering didengar adalah kualitas daging yang tidak sama dengan daging yang didapat dengan cara dibeli di pasar baik pasar modern yang biasanya didominasi daging import maupun pasar tradisional yang umumnya mengklaim daging sapi jualannya sebagai daging sapi produksi lokal.  Penilaian yang banyak diberikan oleh ibu - ibu adalah rasa daging sapi kurban yang katanya sering terasa hambar (tidak juicy) dan aromanya tidak wangi.

     Kalau dugaan saya, mungkin karena daging sapi kurban bukan ditangani oleh orang yang rutinitasnya setiap saat mengurus daging sapi.  Sehingga karena kurangnya pengalaman, penanganannya menjadi tidak sesempurna orang - orang yang profesi sehari - harinya memang menangani daging sapi.

     Kebiasaan kebanyakan orang disekeliling saya dalam merayakan hari raya Idul Adha, daging dari sapi yang baru saja disembelih banyak diolah dijadikan sate, setiap rumah membakar sate.

     Idul Adha 1438 Hijriah, kami sekeluarga memutuskan merayakan di kampung halaman ibu saya di Ciamis Selatan, daerah yang dulunya termasuk kecamatan Banjarsari namun kini termasuk dalam kecamatan baru hasil pemekaran yakni kecamatan Banjar Anyar.

     Tumben, kali ini daging sapi yang kami dapat terasa juicy dan wangi.

     Dari awal kami memang sudah berencana membuat sate.  Dan Kami memilih mengolah sate dengan bumbu Maranggi.  Untuk referensi rasa, saya sudah cukup sering menikmati rasa sate maranggi yang terkenal di Kota Tasikmalaya.  Dari rasa tersebut saya mencoba membuat bumbu maranggi untuk sajian kali ini.

     Dengan bumbu maranggi, sate tidak perlu dibari sambal ataupun saus tambahan lain.  Tidak perlu menyiapkan saus kacang ataupun sambal kecap.  Karena bumbu maranggi membuat daging sate memiliki rasa yang lengkap, asin, manis dan seulas tipis rasa asam dan jika mau bisa langsung dibuat pedas.  

     Tahun - tahun yang lampau, saya biasanya mengempukkan daging mentah yang akan dibuat sate dengan daun pepaya.  Tidak terlalu  berhasil.  Jika daging dibungkus daun pepaya, hasilnya daging tidak seempuk yang diharapkan.  yang lebih parah pernah mencoba memeras tumbukan daun pepaya untuk dimasukkan ke dalam daging, hasilnya meski dicuci berkali - kali, rasa pahitnya tetap melekat di dalam daging.

     Kali ini saya mencoba browsing sebanyak mungkin tips dan trik membuat sate yang empuk.  Dan saya menemukan informasi bahwa yang bisa mengempukkan daging selain daun pepaya adalah daging buah nanas.  Saya bahkan membaca bahwa gula merah dan asam jawa bisa turut mengempukkan daging.

     Berarti klop sudah, saya ingin membuat sate dengan bumbu ala Sunda dan bahan pengempuk dagingnya bahkan sudah ada dalam bumbu yang digunakan.

     Karena saya fikir jika yang diambil adalah sari nanasnya maka bumbunya akan berair banyak dan terbuang, maka saya memutuskan nanasnya akan dipotong kecil - kecil.  Tokh, nanti ketika dirangkai di dalam tsusukan sate, nanas akan tersisihkan dengan sendirinya.

     Saya hanya sempat memarinasi dagingnya kurang dari setengah jam, namun  bumbu sudah cukup meresap ke dalam daging dan daging sudah cukup empuk (maklum satenya sudah ditongkrongin anak - anak yang sudah tidak sabar ingin segera mencicipi hehe...).  Saya rasa dibutuhkan sedikit waktu lagi untuk membuat bumbunya meresap secara sempurna.

     Tapi saya sudah cukup puas dengan hasil, baik rasa maupun penampilannya.

     O,ya biasanya saya menggunakan bahan olesan dengan campuran kecap dan margarin.  tapi campuran ini akan membuat sate dipenuhi bintik - bintik bekuan margarin pada saat sate tidak lagi hangat sehingga mengurangi keindahan penampilan sate belum lagi rasa margarin (beku) akan terasa mengurangi kelezatan sate. Jadi kali ini, saya menggunakan campuran kecap dan minyak sayur, sehingga saat sate dingin tetap cair dan tidak membeku seperti margarin.

     Selain itu untuk menghasilkan aroma yang maksimal saya membakar sate menggunakan arang batok kelapa.  Sedangkan untuk minyak bakarnya saya menggunakan jelantah (minyak sayur yang telah digunakan untuk menggoreng).

     Resep dan cara membuat sate maranggi yang saya sajikan saat Idul Adha adalah sebagai berikut :

Bahan : 
1 kilogram daging sapi, potong ukuran kurang lebih 1 x 1 x 2 cm
150 gram nenas, potong - potong kasar
Tusuk sate secukupnya

Bumbu Halus :
10 butir bawang merah, kupas
4 siung bawang putih, kupas
1 sendok makan ketumbar
100 gram gula aren
3/4 sendok makan garam
2 mata asam jawa

Bumbu Oles :
70 ml kecap (saya pake Bango)
50 ml minyak sayur

Cara Membuat :
1.  Campurkan potongan daging, potongan nanas dan bumbu halus.  Diamkan beberapa saat.
2.  Siapkan tusuk sate, isi dengan 5 potongan daging.
3.  Siapkan pembakaran, bakar sate setengah matang terlebih dahulu, lalu oles dengan bumbu oles, bakar kembali hingga matang.
4.  Sate siap disajikan. 

Wednesday, August 23, 2017

Resep dan Cara Membuat Buras dan Leupeut Isi Oncom : Makanan Pelengkap Aneka Gorengan

Oleh : Resna Nata

     Melanjutkan cerita tentang penjual aneka gorengan kaki lima yang biasanya mangkal dengan gerobaknya.  Saya ingin melanjutkan cerita dengan jenis makanan lain yang biasanya melengkapi dagangannya.  Pada penjual aneka gorengan kaki lima di Jawa Barat, selain tersedia aneka gorengan juga biasanya dilengkapi makanan berbahan beras seperti buras atau leupeut.

     Buras adalah makanan berbahan dasar beras dan kelapa muda parut yang dibungkus daun pisang.  Buras dibuat dengan cara dikukus.  Rasanya asin dan gurih.  Sedangkan leupeut adalah makanan berbahan dasar beras yang dibungkus daun pisang, leupeut biasanya dibuat dengan menggunakan isian (meski ada juga yang dibuat polos tanpa isi), isian leupeut bisa berupa cincang daging maupun cincang sayuran.  Namun yang paling khas Jawa Barat tentu saja leupeut isi oncom, dan biasanya isian oncom ini memiliki rasa yang cukup pedas.

     Di daerah lain, leupeut dikenal dengan sebutan arem - arem atau lontong.  Proses pemasakan terakhirnya  bisa direbus atau dikukus.  Kali ini saya menyajikan leupeut dengan cara dikukus.

     Karena sebelumnya saya belum pernah membuat buras dan leupeut, maka yang pertama saya lakukan sebebelumnya adalah 'survey' (hehe...) mencoba mencari tahu takaran yang presisi untuk pembuatannya.  Yang terutama ingin saya ketahui adalah perbandingan beras dan air yang pas.  Tapi ternyata saya tidak mendapatkan perbandingan yang beanr - benar presisi karena penjual gorengan tidak menggunakan gelas ukur dalam pembuatan buras dan leupeutnya.

     Sewaktu saya bertanya pada seorang penjual gorengan tentang perbandingan  beras dengan takaran air untuk membuat leupeut atau buras, ibu ini memberikan jawaban untuk satu kilogram beras diperlukan enam 'siwur' air.  'Siwur' adalah sebutan untuk gayung bergagang panjang.  Zaman dulu 'siwur' biasa dibuat dengan batok kelapa, tapi sekarang tentu saja berbahan plastik.  Siwur sekarang berukuran standar, ada yang berukuran besar dan ada pula yang berukuran kecil.  Maka ketika saya pergi ke toko penjual peralatan rumah tangga, saya membeli 'siwur' ukuran kecil untuk mengukur berapa volume air yang tertampung di dalamnya.  Ternyata isi siwur kecil adalah 500 mililiter.

     Karena saya memperkirakan leupeut untuk jualan menggunakan beras jenis IR-64 yang cenderung keras (membutuhkan lebih banyak air untuk menjadi empuk), sedangkan stok beras yang ada di rumah adalah jenis yang disebut penjualnya dengan sebutan 'beras singaparna' (varietasnya apa, saya kurang tahu, tapi katanya yang jelas bukan IR-64) yang 'hemat air' maka saya mengurangi sedikit volume air dalam pembuatan beras.  Maka dengan dasar perkiraan itu, akhirnya saya bisa juga membuat buras dan leupeut  (hadeuh baru nyadar...ceritanya kok muter - muter dulu ya...).

     Dan inilah resep dan cara membuat buras dan leupeut berdasarkan hasil 'survey' yang saya lakukan (hehe...):

1.  Resep dan Cara Membuat Leupeut Isi Oncom 

Bahan Adonan Leupeut :
250 gram beras kualitas bagus
garam
gula (sebagai pengganti bumbu penyedap)
1/4 sendok teh kapur sirih
675 ml air

Daun pisang untuk membungkus
Semat dari lidi yang dipotong serong


Bahan Isian Oncom :
75 gram oncom
3 butir bawang merah
1 siung bawang putih
2 cm kencur
cabai rawit sesuai selera
1 batang serai dipotong serong 4 bagian
garam
gula
1/2 cangkir air

Cara Membuat :

Membuat Isian Oncom :
1.  Remas - remas oncom hingga terurai (jangan terlalu ditekan)
2.  Haluskan bawang merah, bawang putih, kencur, cabai rawit, garam dan gula.
3.  Panaskan minyak, tumis bumbu halus sampai harum, masukkan serai, oncom dan air.  Masak sampai airnya terserap habis.

Membuat Adonan Leupeut :
1.  Masak semua bahan adonan leupeut bersama sama hingga airnya terserap habis.  Angkat, aduk - aduk hingga adonan leupeut dingin.
2.  Ambil potongan daun pisang, letakkan sesendok adonan leupeut, isi dengan isian oncom, gulung kembali hingga isian oncom tertutupi adonan leupeut.  Lipat daun pisang sedemikian rupa dan semat kedua sisi dengan lidi.
3.  Kukus hingga matang (cek kematangan setelah 45 menit).

2.  Resep dan Cara Membuat Buras

Bahan :
250 gram beras kualitas bagus
1/4 butir kelapa muda parut
1/4 sendok makan garam
1 batang serai, potong serong 4 bagian
1 lembar daun salam, potong 2
675 ml air
Daun pisang untuk membungkus

Cara Membuat :
1.  Masukkan beras, kelapa muda parut, garam, serai, salam dan air.  Aroni sampai airnya terserap semua.  Angkat, aduk - aduk sampai dingin.
2.  Bungkus dengan melipat kedua ujungnya.  Kukus hingga matang (cek kematangan setelah 45 menit).

     Di daerah pedesaan sekarang penjual gorengan lengkap dengan leupeut atau burasnya biasanya berjualan di pagi hari.  Orang - orang menjadikannya sebagai menu sarapan sebelum memulai aktivitas sehari - hari.  Jika berkunjung ke kampung halaman suami di daerah Cisaga Ciamis, kami sekeluarga kadang menikmati sarapan pagi sambil duduk - duduk di warung penjual gorengan dan leupeut.  Dengan nongkrong di sana kami juga bisa bertemu dengan beberapa saudara yang kebetulan sama - sama membeli sarapan di tempat yang sama, mungkin ibu - ibu yang membeli untk keluarga di rumah atau bapak - bapak yang mampir sebelum beraktivitas di kebun atau di sawah.  Di warung penjual gorengan, kami bisa sarapan sekaligus berinteraksi dengan famili yang kebetulan mampir dan mungkin tidak sempat kami kunjungi satu persatu.

Jika leupeut atau buras biasanya dimakan bersama dengan gorengan, maka di Jawa Barat juga dikenal lontong yang biasanya menjadi pengganti nasi dalam makanan berkuah (atau sayur).  Lontong biasanya dibuat dengan tekstur yang lebih padat dan dibuat tanpa isian, dikemas dengan daun pisang dengan bentuk seperti leupeut namun biasanya dalam ukuran yang lebih besar.  

Tuesday, August 22, 2017

Jajanan Kaki Lima Aneka Gorengan : Resep dan Cara Membuat Bala - Bala (Bakwan Sayur), Gehu (Tahu Isi Toge), Cipe (Gorengan Tempe) dan Pisang (Pisang Goreng)

Oleh : Resna Nata

     Di daerah Priangan Timur seperti Tasikmalaya, Ciamis, Banjar dan Garut, banyak dijumpai gerobak dorong kaki lima yang menjual aneka gorengan.  Saya rasa di tempat lain juga banyak pedagang kaki lima yang menjual aneka gorengan semacam ini.

     Yang membuat saya ingin menampilkan aneka gorengan tersebut di blog ini, alasannya sederhana, kendati gorengan ini bukan makanan yang asing dijumpai di banyak tempat se Indonesia tapi makanan ini memiliki nama khusus di tanah Sunda, seperti sebutan gala - bala untuk bakwan sayur, gehu yang merupakan akronim dari toge - tahu untuk menyebut gorengan tahu isi tumis toge (beberapa waktu lalu nge-hits tumisan isiannya dibuat ekstra pedas), cipe yang merupakan akronim dari aci (tepung) - tempe untuk menyebut tempe goreng tepung.  Dan yang paling unik adalah sebutan pisang untuk menyebut hasil gorengan pisang berbalut tepung.

     Saya tidak tahu pasti di daerah Jawa Barat mana saja yang menggunakan istilah pisang untuk gorengan manis dengan sebutan pisang.   Seperti pisang cau dan pisang peuyeum untuk gorengan pisang dan tape yang berbalut tepung.

     Yang membuat saya percaya diri memposting resep dan cara membuat aneka gorengan kali ini adalah karena saya punya sedikit 'rahasia' tentang pembuatan aneka gorengan langsung dari tukang gorengan (ehem...).  Memang belum semua 'rahasia' terungkap (hehe...) tapi setidaknya saya sudah mengalami satu langkah kemajuan dalam pembuatan gorengan (halah...lebay...).

     Ceritanya, waktu itu saya sedang belanja di kios yang menjual telur dan aneka sembako langganan saya.  Kios tersebut juga menjual berbagai sembako lain diantaranya aneka tepung terigu.  Saya mendengar seorang ibu memesan 'Simpul' sebanyak dua kilogram.  Saya menanyakan pada ibu tersebut apakah yang dimaksud dengan simpul yang dibelinya.  Dia bilang simpul adalah jenis terigu yang biasa digunakan untuk gorengan.  Dan ibu tersebut sudah beberapa tahun berjualan gorengan menggunakan 'Simpul'

     Pulang ke rumah saya browsing tentang terigu 'Simpul' ini.  Ternyata 'Simpul' adalah merk terigu dari sebuah perusahaan terkenal, yang memiliki merk - merk terigu jenis lain yang sudah dikenal luas selama ini.  'Simpul' adalah merk terigu dengan kadar lebih rendah dibanding kadar protein terigu - terigu jenis lain dari perusahaan yang sama.  Merk/jenis terigu jenis lain dijual secara meluas hingga pasar modern yang ada di mall.  Meski berasal dari perusahaan yang sama, 'Simpul' tidak pernah saya temukan di toko swalayan modern.

     Setelah saya coba ternyata 'Simpul' ketika dibuat gorengan menghasilkan gorengan yang lebih renyah bahkan jika digoreng dengan api kecil sekalipun.

     Dan kelebihan yang lain dari terigu 'Simpul' ini adalah harganya yang jauh lebih murah dibanding merk atau jenis terigu lain dari perusahaan yang sama.

     Jadi itulah, satu rahasia baru yang saya dapat (hehe...) meski tentu saja masih ada rahasia atau tips dan trik dari penjual gorengan yang belum saya ketahui.

1.  Resep dan Cara Membuat Bala - bala

     Bala - bala atau bakwan sayur adalah jenis gorengan yang selalu ada di setiap penjual gorengan.  Sebenarnya jika kita menyajikan bala - bala atau bakwan sayur di rumah, kita bisa menggunakan sayuran yang lebih beragam seperti tauge, sawi putih dan lain -lain.  Tapi karena yang paling umum digunakan oleh tukang gorengan adalah kol dan wortel, jadi kali ini saya juga hanya menggunakan kedua jenis sayuran tersebut.

Bahan :
150 gram kol
100 gram wortel
50 gram bawang daun
garam
gula pasir (sebagai pengganti penyedap)
1/4 sendok teh merica bubuk
300 gram tepung terigu 'Simpul'
300 ml air (jika kurang lembek, tambahkan lagi airnya)

Cara membuat :
1.  Kol diiris tipis, wortel diiris tipis memanjang, bawang daun diiris tipis.
2.  Masukkan garam, gula pasir, merica bubuk, terigu dan air. Aduk rata.
3.  Goreng dalam minyak panas, gorengan harus terendam minyak, hingga kecoklatan.
4.  Angkat dan sajikan.

2.  Resep dan Cara Membuat Gehu

      Gehu atau gorengan tahu dengan isian tumis toge adalah jenis gorengan lain yang pasti selalu ada di setiap penjual gorengan.  Sayangnya saya belum menemukan jenis tahu yang pas untuk gehu, yakni tahu yang bisa digoreng hingga kering (menyisakan sesedikit mungkin kadar air pada tahu).  Tapi asalkan dimakan selagi hangat, gehu yang saya buat juga cukup renyah.

     Gehu yang saya buat kali ini menggunakan isian yang tidak pedas.  Jika menginginkan gehu pedas bisa ditambahkan cabai rawit merah dalam ulekan bawang putih.  Jika ingin variasi yang lain bisa juga disisipkan bumbu pecel bersebelahan dengan tumis tauge.

Bahan :
15 buah tahu ukuran 5 x 5 x 1 cm goreng kering

Bahan Isian :
100 gram toge
2 siung bawang putih, haluskan (atau cincang halus)
1/4 sendok teh merica bubuk
1 batang bawang daun iris 1/2 cm
garam
gula pasir (sebagai pengganti bumbu penyedap)
sedikit air

Bahan Pencelup :
1 gelas tepung terigu 'Simpul'
1 gelas air
garam
gula pasir (sebagai pengganti bumbu penyedap)

Cara Membuat
1.  Siapkan tumis isian, panaskan minyak, masukkan bawang putih halus, masukkan toge, sedikit air, irisan bawang daun, merica, garam dan gula.  Aduk - aduk sampai setengah matang.
2.  Siapkan bahan pencelup, campur tepung terigu, garam, gula dan air, aduk sampai menyatu.
3.  Belah satu sisi tahu, masukkan tumisan isian.  Lakukan sampai semua bahan habil.
4.  Celup tahu isi tumis toge ke dalam bahan pencelup.  Goreng dalam minyak panas hingga terendam seluruhnya sampai matang.

3.  Resep dan Cara Membuat Cipe

     Cipe atau gorengan tempe berbalut tepung.  Mirip mendoan di Jawa Tengah.  Bedanya ada pada jenis rempah - rempah yang digunakan (mendoan menggunakan jenis bumbu aromatik lebih banyak), perbandingan tempe dan tepung yang digunakan (pada cipe, tempenya hanya sedikit)  serta tingkat kekeringan gorengan yang dihasilkan (cipe lebih kering dari mendoan).

Bahan : 
1 potong tempe, iris tipis (kurang lebih 15 buah)
1 batang daun bawang, potong -  potong 1/2 cm 
2 gelas tepung terigu 'Simpul'
2 gelas air

Bumbu Halus :
2 butir bawang merah
4 siung bawang putih
1/2 sendok teh ketumbar
garam
gula pasir (sebagai pengganti bumbu penyedap)

Cara Membuat :
1.  Campurkan bumbu halus, daun bawang, tepung terigu 'Simpul' dan air hingga menyatu.
2.  Siapkan minyak panas, celup tempe ke dalam adonan tepung, gorengan harus terendam minyak.
3.  Goreng hingga tingkat kematangan yang diinginkan, angkat, tiriskan dan sajikan.


4.  Resep dan Cara Membuat Pisang Goreng
 

   Selain gorengan bercitarasa asin, ada juga gorengan yang bercitarasa manis.  Gorengan bercitarasa manis yang saya sajikan dalam posting kali ini adalah pisang goreng.  Jenis pisang yang umum digunakan oleh penjual gorengan adalah pisang nangka dan (terutama) pisang kapas.  Pisang nagka memiliki aroma lebih wangi, namun pisang kapas dengan dengan kematangan yang pas memiliki rasa lebih manis dibanding pisang nangka yang biasanya memiliki sedikit rasa asam.

Bahan :
4 buah pisang nangka matang potong serong 3 sampai 5 bagian
100 gram tepung terigu 'Simpul'
1 sendok makan gula pasir
1 sendok makan margarin
100 ml air panas

Cara Membuat :
1.  Campurkan tepung terigu 'Simpul', gula pasir, margarin dan air panas, aduk sampai menyatu.
2.  Panaskan minyak, celup pisang dalam adonan tepung, goreng hingga terendam minyak sampai matang.
3.  Angkat, tiriskan dan sajikan.

     Untuk kali ini saya hanya hanya menampilkan empat jenis gorengan yang umumnya ada di tukang gorengan kaki lima.  Sebenarnya masih ada jenis gorengan lain yang juga biasa dijual di kali lima seperti pisang molen, cireng, rarawuan, comro dan rollade daun singkong.  Selain itu biasanya juga disediakan makanan pendamping gorengan seperti buras atau leupeut.   Saya akan menuliskan dalam posting lain waktu.

Untuk melengkapi jualan aneka gorengan, biasanya di penjual gorengan juga disediakan makanan pengganti nasi yang sama sama berbahan beras seperti leupeut atau buras.

Sunday, August 20, 2017

Resep Dan Cara Membuat Seblak : Makanan Kekinian Di Jawa Barat

Oleh : Resna Nata

     Sebelumnya tidak terlalu tertarik mencoba makanan bernama Seblak ini.  Saya tidak terlalu tertarik mengetahui rasanya, karena sejak awal yang saya tahu makanan ini tak lebih dari masakan kerupuk (mentah) yang direbus menggunakan bumbu tertentu.

     Dari penamaannya terlihat asal muasal makanan ini.  'Seblak' adalah kata dasar dari 'Nyeblak' yang artinya dalam bahasa Indonesia kurang lebih 'Terhenyak'.  Ini adalah bahasa Sunda.  Mungkin penamaan seblak dikarenakan makanan ini identik dengan rasa pedas yang luar biasa.  Jadi pedasnya benar - benar membuat terhenyak.

     Saya rasa makanan ini adalah makanan kreasi baru, karena waktu saya masih kecil tak pernah mendengar nama makanan seperti ini.

     Lama - lama rasanya kok 'kurang' jika blog yang isinya mencoba mengeksplorasi berbagai hal yang ada di Jawa Barat tidak memunculkan makanan yang masih 'ngehits' di tanah Pasundan ini.

     Untuk referensi, akhirnya saya memulai dengan mencicipi rasa seblak yang mangkal di dekat sebuah sekolah dasar di Kota Tasikmalaya.  Hadeuh, semangkuk seblak yang saya dapat isinya terdiri dari kerupuk mentah rebus, makaroni jenis elbow, ceker ayam dan mie (yang saya yakin berasal dari mie instan ini), bumbunya yang terasa dominan adalah bumbu mie instan rasa kaldu ayam (mungkin bumbu ini didapat dari mie yang digunakan dalam seblak tersebut.  Rasa bawang putih dan kencur terasa meski tipis - tipis.

     Eksplorasi rasa seblak selanjutnya saya dapat di Kota Banjar, ada pedagang seblak kaki lima yang mangkal di dekat sebuah toko swalayan terkenal di Kota Banjar.  Karena pedagang ini juga menawarkan isi seblak yang berbeda dari seblak mainstream (hehe...) yakni seblak cimol dan seblak cilok, dan kebetulan yang 'ready' pada saat saya mampir ke sana adalah seblak cimol, saya pilih seblak cimol dengan tambahan telur kocok.  Rasanya setelah dicicipi lebih baik dari seblak pertama yang saya cicipi dan saya ceritakan sebelumnya.

     Terakhir, saya mencicipi seblak di sebuah foodcourt yang ada di sebuah toko swalayan di kabupaten Garut.  yang membuat saya suka, foodcourt ini tempatnya cukup nyaman dan harga seblaknya dibanderol dengan harga kaki lima.  Saya datang ke tempat ini kebetulan di sore hari, seblak yang nampaknya cukup laris menjadi pilihan konsumen yang mampir di tempat ini, waktu itu hanya menyisakan kerupuk dan ceker.

     Ketiga seblak tidak memiliki rasa yang identik sama, kesamanaan hanya ada pada adanya aroma kencur dan bawang putih serta rasa yang pedas.
     
     Setelah mengambil tiga 'random sampling' (hehe...) akhirnya saya mencoba membuat seblak sendiri di rumah.  Karena anak saya merengek ingin ikut mencoba, maka saya membuat seblak dalam dua versi yakni Seblak Pedas dan Seblak Tidak Pedas (yang sekaligus juga tanpa penyedap).

     Dan inilah resep dan Cara Membuat Seblak ala Resna (resep ini untuk 3 porsi) :

Bahan :
200 gram kerupuk bawang, rendam air dingin sebentar
100 gram makaroni spiral, rebus sampai matang
9 buah kaki ayam, dimarinasi dengan 1 sendok teh garam dan 1 sendok teh gula pasir, kukus sampai matang
3 batang bawang daun, iris 1 cm

Bumbu Halus :
9 siung bawang putih, kupas
3 cm kencur
daun jeruk, buang tulang daun
cabai rawit merah secukupnya (jika tidak ingin pedas bisa ditiadakan)
garam
gula

Cara Membuat :
1.  Panaskan minyak, tumis bumbu halus.  Masukkan setengah cangkir air.  
2.  Masukkan kerupuk, masak hingga hampir matang, masukkan makaroni, ceker dan irisan daun bawang.
3.  Cicipi dan sempurnakan rasanya.  
4.  Masak sampai matang, angkat dan sajikan.

Beristirahat Sejenak Di Obyek Wisata Budaya Ciung Wanara Karang Kamulyan Kabupaten Ciamis

Oleh : Resna Nata
     Kabupaten Ciamis termasuk wilayah yang beruntung karena dilalui jalur utama lalu lintas antar kota bahkan antar propinsi.  Dan di jalur ini ada beberapa tempat melabeli diri dengan nama 'rest area', baik yang dikelola swasta maupun Pemerintah.

     Salah satu tempat yang dijadikan rest area dan dikelola oleh Pemerintah Daerah Ciamis adalah Objek Wisata Budaya Ciung Wanara yang berlokasi di Desa Karang Kamulyan Kecamatan Cijeungjing Kabupaten Ciamis.  Labelnya memang bukan sekedar rest area melainkan objek wisata budaya.

     Objek wisata Ciung Wanara ini memiliki multifungsi, selain menjadi rest area juga berfungsi sebagai hutan kota dan tentu saja objek wisata budaya.

     Letak rest area adalah di bagian depan (halaman).  Dari luar pagar sebelum masuk sudah banyak terdapat kios kios yang menyediakan beragam makanan.  Di dalam rest area juga banyak terdapat kios dan gerobak penyedia beragam makanan.  Yang menjadi menu khas rest area ini adalah aneka pepes seperti ayam dan berbagai jenis ikan, disajikan lengkap dengan nasi timbel dan sambal lalap.  Sedangkan untuk pelepas dahaga tersedia kelapa muda dan aneka minuman kemasan.

     Di tempat istirahat ini selain terdapat area parkir yang cukup luas juga terdapat tiolet dan mesjid.   Memasuki bagian rest area ini kita tidak dikenai biaya.  Namun jika ingin memanfaatkan fasilitas lain yang ada di tempat ini yakni berwisata mengenal peninggalan sejarah dan budaya, kita harus melewati pintu masuk dan membayar tiket tanda masuk.  Di dalam area wisata kita akan melihat beberapa peninggalan bersejarah seperti sisa sisa jalan kuno peninggalan zaman zaman kerajaan dulu.  Atau susunan bebatuan yang erat kaitannya dengan legenda Ciung Wanara.

     Yang membuat kurang nyaman di sini adalah keberadaan monyet monyet yang 'berani' mendekati pengunjung.  Keberanian satwa ini tercetus katanya karena kebiasaan pengunjung memberikan makanan pada satwa - satwa ini.

     Sebelum memasuki objek wisata ini sebaiknya kita juga membekali diri dengan mengoleskan lotion anti nyamuk, karena di tengah rimbun pepohonan yang besar - besar terdapat nyamuk beterbangan.  Di sini banyak terdapat pohon - pohon yang mulai jarang di jumpai.  Pohon - pohon yang jarang ditanam (karena komersialisasi lahan, kebanyakan masyarakat hanya mengisi lahan dengan pohon - pohon yang laku dijual untuk keperluan industri).

     Objek wisata ini bisa dimanfaatkan untuk mempelajari beberapa hal sekaligus, selain peninggalan bersejarahnya yang bisa menggugah kita untuk mempelajari rangkaian cerita sejarah masa lalu.juga sekaligus mengenal beragam pepohonan yang mungkin sudah mulai langka.  Pohon - pohon ini dilabeli sesuai namanya.

     Jika tidak ingin menjelajahi area objek wisata secara keseluruhan dan hanya ingin memanfaatkan rest areanya saja (bagian depan) kita bisa menikmati istirahat sejenak dalam suasana yang sejuk di bawah kerimbunan pohon - pohonan di halaman depan secara gratis (namun tentu saja mengeluarkan uang untuk membeli aneka makanan yang tersedia di tempat ini hehe...).

     Makanan yang tersedia di tempat ini (sayangnya) tidak terlalu banyak variasinya bahkan nyaris sama di tiap kios yakni aneka pepes.  Saya tidak tahu penyebab penjual makanan di tempat ini tidak menyediakan makanan yang lebih variatif.  Mungkin karena permintaan untuk jenis makanan lain kurang atau jangan - jangan karena pedagang disini belum memaksimalkan kreatifitasnya.  Padahal dengan posisinya yang strategis, terletak di pinggir jalan nasional yang dilalui lalu lintas antar kota antar propinsi, potensi untuk dikembangkan (menjadi juga) sebagai tempat berwisata kuliner juga terbuka luas.

     Dulu di bagian halaman depan objek wisata ini (bagian rest area) di depan gong perdamaian bahkan terdapat kolam berisi ikan mas/koi yang besar - besar dan banyak.  Beberapa kali saya dan keluarga mampir saat tiba waktu sholat untuk sholat di sini.  Waktu itu anak saya yang masih kecil, saya dan suami bisa bergantian menunaikan ibadah dan menemani putri saya melihat ikan.  Saat itu disediakan kotak berisi pakan yang dikemas dalam plastik kecil - kecil, kita bisa mengambilnya dan menggantinya dengan harga seribu rupiah (dimasukkan ke dalam kotak yang sama).  Anak saya (dan anak - anak lainnya) suka melihat ikan berebut pakan yang dilempar ke dalam kolam.  Saya tidak tahu alasan fasilitas penunjang ini ditiadakan.  Padahal ini adalah salah satu faktor penarik orang (setidaknya saya dan keluarga hehe...) mampir ke tempat ini.  Dan jika sudah mampir, kami setidaknya menikmati sebotol minuman atau kelapa muda yang dijual di tempat ini.

     Terlepas dari potensinya yang belum berkembang secara maksimal, bagi local traveller yang sedang
menempuh perjalanan jauh dan mulai merasa penat, lelah atau mengantuk, objek wisata ini bisa dimanfaatkan untuk beristirahat sejenak.  Dengan memarkir kendaraan di bawah pepohonan yang rimbun, kita bisa take a nap (tidur sebentar) sebelum kembali melanjutkan perjalanan.

Thursday, August 3, 2017

Berolahraga Pagi Di Situ Gede Kota Tasikmalaya

Oleh : Resna Nata

     Di Kota Tasikmalaya ada beberapa tempat yang banyak dimanfaatkan untuk berolahraga pagi outdoor. Diantaranya alun - alun Kota Tasikmalaya, seputar komplek olahraga Dadaha dan di Situ Gede.

     Alun - alun Kota Tasikmalaya sempat sepi ketika kepemilikannya belum ditetapkan secara pasti menyusul dibentuknya Kota Tasikmalaya yang terpisah dari Kabupaten Tasikmalaya.  Setelah proses pemisahan aset selesai dan alun - alun menjadi milik pemerintah Kota Tasikmalaya, mulailah alun - alun dibenahi dan sekarang mulai ramai lagi dan banyak dimanfaatkan untuk jogging di pagi hari.

     Tapi kali ini saya tidak akan bercerita tentang alun - alun melainkan Situ Gede Kota Tasikmalaya.  Situ Gede adalah objek wisata yang dikelola Pemerintah Kota Tasikmalaya.

     Untuk sampai di Situ Gede yang berlokasi di Kelurahan Linggajaya Kecamatan Mangkubumi Kota Tasikmalaya, kita bisa masuk melalui Jalan Ir. H. Juanda atau Jalan A.H. Nasution.  Saya lebih merekomendasikan jalur yang melalui Jalan A.H Nasution.  Alasannya jika kita memasuki jalan lingkungan yang menuju Situ Gede yang berawal dari Jalan Ir. H. Juanda kemungkinan untuk kesasar agak lebih banyak (hehe....), di jalur ini pada setiap perempatan tidak ada sama sekali papan penunjuk jalan yang mengarahkan kita menuju gerbang depan Situ Gede.  Sementara jika kita melalui jalan lingkungan yang berawal dari Jalan A.H Nasution, selain rutenya lebih pendek, ada beberapa rambu yang menunjukkan arah menuju gerbang utama Situ Gede.  Selain itu, pada rute ini sudah banyak rumah penduduk yang bisa kita jadikan sumber informasi jika kita masih ragu tentang rutenya.

     Seperti kebanyakan objek wisata yang dikelola pemerintah daerah, tarif masuk ke area wisata ini pun tidak mahal.

     Kita bisa datang di pagi hari untuk berolahraga di tempat ini karena memang tersedia jogging track bagi pengunjung yang ingin berjalan atau berlari ringan mengelilingi situ.

     Seiring waktu, dengan banyaknya pengunjung, di sisi kanan dan kiri jogging track semakin dipenuhi saung - saung yang menjajakan menu khas yakni ikan nila/mujair bakar dengan bumbu kunyit lengkap dengan sambal dan lalap matang daun singkong dan pepaya.

     Di satu sisi, keberadaan warung - warung ini menambah nilai Situ Gede menjadi sekaligus objek wisata wisata kuliner, namun di sisi lain mempersempit ruang gerak pengunjung yang ingin berlari ringan atau berjalan santai mengitari tempat ini.

     Jika anda ingin mengunjungi tempat ini untuk berolahraga pagi dengan membawa anak - anak, saya tidak menyarankan mengambil tantangan memutari situ, karena akan sangat melelahkan.  Ambillah satu jarak tertentu untuk kemudian kembali ke tempat semula.

     Selain berolahraga dan berwisata kuliner, di tempat ini juga tersedia fasilitas lain untuk menikmati keindahan panorama sekitar situ yakni rakit dan perahu .  Kita bisa menyewa rakit atau perahu untuk mengitari Situ.

     Di tengah situ terdapat pulau, yang konon di pulau tersebut terdapat makam Eyang Prabudilaya.  Ada berbagai versi cerita legenda tentang tokoh yang satu ini.  Sehingga Situ Gede juga ada yang menjadikannya sebagai objek wisata ziarah.

     Selain cerita legenda tentang Eyang Prabudilaya ada cerita legenda lain yang erat kaitannya dengan Situ Gede yakni misteri sebuah kampung yang (pada zaman dahulu) dinamakan Sinjang Moyang yang letak pastinya di masa lampau belum diketahui secara pasti.


   Di pagi hari, seusai berolahraga kita bisa mengakhiri aktivitas dengan menikmati menu khas Situ Gede yakni bakar ikan sambil menikmati pemandangan situ yang dihiasi dengan perahu yang berlalu lalang.

     By the way, warung - warung di Situ Gede juga bisa dijadikan tempat kumpul bersama teman seperti arisan atau sekedar bertemu sambil ngobrol - ngobrol.  Warung - warung di sini menyediakan tempat makan lesehan dengan menu khas yang hampir sama.

     Sayangnya, saya pernah punya pengalaman kurang menyenangkan ketika, karena area parkir lainnya sudah penuh, saya memanfaatkan area parkir di bawah (sebelah loket pintu masuk/tempat penjualan karcis), penataan tempat parkir menurut saya kurang begitu bagus.  Ada bagian dari area parkir yang membuat mobil tidak leluasa berputar arah saat hendak keluar.  Mungkin perlu pengaturan dimana seharusnya mobil di parkir dan dimana yang hanya dapat digunakan untuk parkir motor.

     Penataan warung - warung juga perlu dilakukan agar tidak menjadikan pemandangan Situ menjadi
sumpek karena warung - warung yang tidak tertata rapi.

     Hal lain yang juga agak kurang terpelihara dengan baik di Situ Gede adalah fasilitas mushola dan WC.  Meski masih terlihat bagus namun kebersihannya tidak dijaga dengan maksimal.

     Kelebihan berolahraga di tempat ini jika dibandingkan dengan fasilitas uang bisa dimanfaatkan untuk olahraga outdoor lainnya seperti Alun - alun Kota Tasikmalaya dan Komplek Olahraga Dadaha yang terletak di tengah kota mungkin adalah udara Situ Gede yang masih relatif lebih bersih dibandingkan yang lainnnya.

     bagi yang menyukai olahraga di tempat terbuka atau berwisata kuliner, Situ Gede dengan pemandangan alamnya bisa menjadi salah satu alternatif pilihan.

Wednesday, August 2, 2017

Menikmati Suasana Malam Bersama Keluarga Di Alun - Alun Ciamis

Oleh : Resna Nata

     Jika Anda kebetulan sedang berkunjung ke Kabupaten Ciamis terutama di akhir pekan, mengunjungi alun - alun Ciamis bisa menjadi salah satu pilihan berganti suasana.

     Di Ciamis tidak terlalu banyak pilihan keramaian yang bisa dikunjungi.  Hanya ada sedikit pusat perbelanjaan modern, itupun ukurannya tidak besar sekali.

     Meski demikian, rasanya bukan karena tidak adanya mall yang membuat alun -alun Ciamis menjadi pusat keramaian yang layak dikunjungi.  Karena letak pusat kota Ciamis yang tidak terlalu jauh dari pusat Kota Tasikmalaya, sebetulnya mudah saja jika ingin sekedar nongkrong di mall.  Di Kota Tasikmalaya terdapat beberapa mall yang cukup besar yang bisa dijadikan tempat nongkrong.

     Namun suasana alun - alun Ciamis yang luas dan ramai di malam hari, dengan beragam jajanan kaki lima memang bisa menjadi alternatif penghilang kejenuhan dari rutinitas sehari - hari.

     Lokasi yang terletak di tengah - tengah kota dan dilalui jalur antar kota merupakan diantara kelebihan yang dimiliki alun - alun Ciamis.  Luas alun - alun yang memadai ditambah dengan taman lain yang ada di depan mesjid agung Ciamis merupakan kelebihan lainnya.  Di lokasi ini terdapat 2 area yang dijadikan taman yang bisa dimanfaatkan warga, yakni alun - alun yang disebut juga dengan nama taman raflesia serta area di depan mesjid agung yang dinamakan taman anggur.  Dan saya menilai penataan taman alun - alun yang dibuat sedemikian rupa tanpa pagar merupakan pilihan yang tepat.

     Taman yang ditata secara terbuka (tanpa pagar) menyulitkan orang - orang yang bermaksud melanggar norma susila di tempat tersebut.  Hal ini membuat alun - alun Ciamis menjadi layak dan aman untuk dijadikan arena bercengkerama bersama keluarga dengan mengikutsertakan anak -anak.  (By the way, saya beberapa kali mengunjungi tempat ini di petang hingga malam hari, antara pukul enam petang hingga pukul delapan malam, suasana alun - alun Ciamis pada waktu lebih malam dari itu saya belum pernah tahu).

     Di taman yang berlokasi di depan mesjid agung tersedia arena bermain anak dengan beragam fasilitas permainan anak seperti ayunan, jungkat - jungkit, prosotan dan lain - lain.  Tapi aktivitas yang memanfaatkan fasilitas tersebut lebih cocok dilakukan di siang hari.

     Di seputar taman depan mesjid agung dan alun -alun banyak pedagang kaki lima berjualan makanan.  Bahkan di malam hari jumlah pedagang kaki lima ini semakin bertambah..  Pedagang kaki lima ini tak hanya mangkal di area taman tapi juga di jalan - jalan sekitarnya seperti di jalan yang terletak di sisi kiri dan kanan gedung DPRD Kabupaten Ciamis.

     Sayangnya hanya sedikit pedagang kaki lima yang menawarkan menu khas Ciamis.  Kebanyakan justru menu - menu pendatang, seperti ayam dan ikan goreng yang ditawarkan warung Lamongan, nasi dan mie goreng yang dijajakan pedagang asal Majenang dan lain - lain.

     Pengunjung alun - alun juga tidak perlu khawatir tentang ketersediaan parkir.  Sisi jalan sebelah alun - alun (jika tidak ada pertunjukan musik di sana) yang cukup lebar, dapat dimanfaatkan untuk parkir.  Demikian pula jalan lain di sekitarnya.

     Pemandangan yang khas di alun - alun Ciamis di malam hari adalah banyaknya sarana permainan yang diskenal dengan sebutan becak cinta berbentuk mobil - mobilan dengan hiasan kerlap - kerlip lampu berwarna - warni.  Pengunjung bisa menyewa sarana ini untuk berkeliling alun - alun.

     Alun - alun Ciamis tidak hanya sekedar menjadi ruang terbuka hijau dengan tamannya tapi juga menjadi fasilitas umum karena suasana yang tercipta di dalamnya.  Tidak hanya orang Ciamis saja yang menyukai suasana tempat ini.  Saya kerap bertemu orang - orang yang saya kenal dan sama - sama berdomisili di Kota Tasikmalaya.

     Untuk nongkrong di tempat ini, selain ada warung tenda yang sudah menyediakan fasilitas lesehan untuk pengunjung yang ingin menikmati
sajian yang mereka tawarkan, di taman depan mesjid agung sepertinya ada juga yang menyediakan jasa persewaan tikar.

     Saya menyayangkan jika keramaian yang sudah tercipta tidak turut dimanfaatkan oleh warga Ciamis sendiri untuk mengenalkan menu khas Ciamis, mengambil keuntungan untuk meningkatkan perekonomian setempat (saya lebih banyak menemukan penjual ayam goreng khas Ciamis di Kota Tasikmalaya daripada di alun - alun Ciamis).

     Meski menunya jarang yang khas Ciamis, alun - alun Ciamis bisa menjadi tempat pilihan untuk nongkrong, bukan hanya dengan teman namun juga dengan keluarga.  Alun - alun Ciamis bisa menjadi alternatif pilihan tempat refreshing yang murah, meriah dan menyenangkan (terutama tanggal tua hehe....).    

Resep Dan Cara Membuat Peuyeum Ketan Hideung Bungkus Daun Pisang... Kali Ini Rasanya Benar - Benar Manis Alami

Oleh : Resna Nata

     Pada posting beberapa bulan sebelumnya, saya bercerita tentang kegirangan karena akhirnya berhasil membuat tape ketan sendiri kendati dengan rasa manis yang dipaksakan karena penambahan gula pada tape yang sudah jadi.

     Mengapa saya begitu gembira ? Karena ibu saya selalu mengatakan membuat tape atau peuyeum itu gampang - gampang susah.

     Mengapa disebut demikian, karena jika dilihat dari cara pembuatannya, prosedur pembuatan peuyeum itu mudah.  Hanya dengan membuat nasi ketan dengan cara seperti biasa, lalu ditaburi ragi, dibiarkan beberapa hari, selesai sudah.  Namun yang menjadi sulit adalah memastikan bahwa yang kita gunakan benar - benar 'ragi yang bagus' untuk membuat peuyeum dan memastikan alat yang kita gunakan benar - benar bersih dari kontaminasi bakteri jenis lain yang bisa mempengaruhi rasa tape.

     Maka saya saya masih merasa tertantang untuk menghasilkan tape atau peuyeum dengan kualitas dan rasa alami yang lebih baik.  Saya menginginkan peuyeum dengan rasa manis yang natural.  Rasa manis yang asli dihasilkan dari dari fermentasi nasi ketan bukan karena penambahan gula pasir.

     Keinginan saya kembali bangkit manakala beberapa minggu sebelumnya saya mendapat bingkisan dari hajatan keluarga.  Bingkisan makanan khas hajatan di pedesaan itu seperti biasa, berisi nasi dan lauk pauknya dan makanan kecil seperti kue awug ketan, bugis, aneka snack kering seperti ranginang, opak, saroja dan keripik, juga tentu saja tape ketan bungkus daun pisang.

     Ketika tape ketan bungkus daun pisang tersebut dicicipi, rasanya sama sekali tidak ada rasa manisnya, yang ada hanya ada rasa asam yang bahkan rasa asam ini juga tetap dominan meski tape tersebut sudah ditaburi gula pasir.

     Mendapati tape seperti itu, saya jadi ingin tahu seberapa sulitkah sebenarnya membuat tape ketan bungkus daun yang enak.

     Pada pembuatan tape sebelumnya saya merasa tape saya menghasilkan terlalu banyak air, bahkan sebelum ditaburi gula pasir.  Jadi saya fikir, dalam pembuatan kali ini kadar kelembekan nasi ketannya harus dikurangi, berharap agar tape yang dihasilkan lebih 'kering'.

     Selanjutnya pasa pembuatan tape ketan hitam yang lalu saya menggunakan tape ketan hitam seluruhnya sehingga tekstur serat tape pada saat dimakan terasa kasar di lidah.  Jadi kali ini saya ingin menggunakan campuran ketan hitam dengan ketan putih dengan perbandingan 2 : 3, berharap tape yang dihasilkan memiliki warna menarik dan rasa yang lebih lembut.

     Selain itu, saya berkeinginan membuat tape dengan bungkus daun pisang dengan porsi sedikit sedikit.  Kemungkinan kontaminasi bakteri bertambah dari daun pisang yang digunakan, dan ini adalah tantangan baru yang lain.

     Dan Bismillahirrohmanirrohim, saya membuat tape dengan resep dan cara membuat sebagai berikut (takaran resep ini untuk 250 gram beras ketan, jadi untuk 1 kilogram beras ketan, semua bahan tinggal ditingkatkan empat kali):

Bahan :

100 gram beras ketan hitam
150 gram beras ketan putih
150 ml air
1/4 butir ragi tape
daun pisang untuk membungkus dan mengalasi tampah

Cara Membuat :

1.  Rendam beras ketan kurang lebih 4 jam, tiriskan.
2.  Kukus ketan dengan api kecil kurang lebih 30 menit.
3.  Angkat ketan, tuang dalam wadah, siram dengan air mendidih
4.  Kukus kembali ketan kurang lebih 30 menit (hingga matang).  Angkat.
5.  Hamparkan merata di atas tampah bersih yang dialasi daun pisang yang bersih  juga, biarkan dingin.
6.  Gunakan saringan kecil, haluskan ragi tape dan hamparkan tipis tipis merata di atas nasi ketan dingin.
7.  Bungkus masing - masing sesendok makan dengan daun pisang.  
8.  Simpan dalam wadah tertutup.  Diamkan selama 2 hari (48 jam).

Catatan :  jumlah tape yang dihasilkan kurang lebih 35 bungkus

     Alhamdulillah, rasa tape ketan hitam yang saya hasilkan kali ini sangat mendekati apa yang saya inginkan, lembut dengan warna yang menarik dan rasa manis alami serta kering.

     Karena rasa ingin tahu bagaimana tahap fermentasi nasi ketan hingga menjadi tape berlangsung, setiap 12 jam saya cicipi satu bungkus tape.

     Setelah 12 jam, tape masih terasa seperti nasi ketan biasa meski aroma tape mulai tercium.  Setelah 24 jam, nasi ketan sudah mulai empuk seperti tekstur tape yang sudah jadi tapi rasa tape masih tawar.  Dalam istilah di kampung halaman saya di Banjarsari Ciamis sana, waktu tepat 24 jam setelah pembuatan ini disebut 'tepung pangjuron' (ada yang tahu artinya...bisa beritahu saya?). Setelah 36 jam, tape mulai terasa manis dan setelah 48 jam tape sudah matang sempurna.

     Oh,ya kali ini saya menggunakan ragi dengan bentuk berbeda dari ragi pada pembuatan peuyeum sebelumnya.  Jika sebelumnya saya menggunakan ragi berbentuk bulat yang dijual pedagang sembako, kali ini saya menggunakan ragi berbentuk ceper yang saya beli dari pedagang beras (yang berhasil meyakinkan saya bahwa ragi ini bagus dan banyak digunakan produsen tape).

    Dan sekali lagi saya percaya bahwa, jenis ragi dan kebersihan peralatan yang digunakan untuk membuat tape menentukan hasil akhir tape yang duhasilkan.