Oleh : Resna Nata
Ketika memulai blog ini, salah satu niat saya adalah melestarikan kuliner lokal di sekitar lingkungan saya.
Seperti pernah saya ceritakan pada posting tentang kue apem mekar. Perlahan tradisi mulai ditinggalkan. Bahkan pada tradisi yang masih dilaksanakan sudah ada beberapa yang mulai ditinggalkan.
Dan seperti cerita saya di post tentang cara membuat bika ambon tanpa telur, saya bahkan tidak bisa berkonsultasi dengan nenek pemilik resep karena nenek tersebut sudah meninggal beberapa tahun silam. Untungnya resep yang saya catat lebih dari dua puluh tahun silam saya simpan dan tidak dibuang. Meski tertatih, akhirnya tapi akhirnya saya berhasil membuatnya (meski belakangan ibu saya memprotes karena bika ambon nya kurang berminyak, harusnya santan yang 200 ml direbus sampai berminyak...oke deh...hehe..). Saya merasa sudah cukup puas karena seratnya sudah banyak dan rongganya kecil - kecil).
Belakangan saya malah semakin terpacu memposting resep - resep kue tradisional karena beberapa kali mendapat bingkisan makanan (besek yang tidak lagi terbuat dari anyaman bambu tapi bahkan kadang terbuat dari bahan berbahaya seperti styrofoam) dari acara selamatan di kampung halaman ibu saya yang makanannya semakin modern saja. Saya sama sekali tidak anti makanan modern. Saya hanya kadang rindu pada makanan tradisional khas pedesaan yang biasanya ada pada besek.
Sekarang saya lebih sering mendapati steamed rainbow cake atau steamed brownies sebagai isi box makanan. Kue - kue ini lebih cantik dan menarik dilihat memang.
Perkiraan saya dulu kue tradisional menjadi pilihan karena menggunakan bahan dari hasil pertanian setempat, seperti tepung beras, tepung ketan, kelapa atau pisang. Mungkin karena pendistribusian bahan makanan import seperti tepung terigu pada masa lampau belum merata hingga pelosok seperti sekarang.
Kadang sedih melihat orang pedesaan sekarang lebih bangga bisa menyajikan makanan 'modern'. Tapi saya tidak memungkiri, saya sendiri ketika pertama kali belajar membuat kue, yang lebih dulu saya pelajari adalah cokies yang dilanjutkan dengan cake. Justru kue tradisional saya pelajari belakangan, ketika kerinduan akan makanan - makanan 'jadoel' mulai jarang terpenuhi.
Saya berharap dengan menuliskan resep kue - kue tradisional akan bisa ikut melestarikan seni kuliner tradisional di sekitar saya.
Dan kali ini saya akan menyajikan tiga varian kue yang cara pembuatannya sederhana yakni jenis papais berbahan tepung beras dengan bungkus daun pisang. Kue - kue ini melalui dua kali tahap pematangan, pematangan pertama dengan cara direbus hingga tanak dan pematangan kedua dengan cara dikukus hingga matang.
1. RESEP DAN CARA MEMBUAT PAPAIS TIPUNG ASIN
Selain menjadi suguhan hajatan sebagai pengisi besek, penganan ini cocok dijadikan menu sarapan pada acara kumpul keluarga atau sore hari sebagai teman minum teh manis atau kopi.
250 gram tepung beras
1 sendok makan tepung tapioka
1 sendok makan tepung tapioka
250 ml air
seujung sendok teh kapur sirih
garam
375 ml santan dari 1/2 butir kelapa
daun pisang untuk membungkus
Cara Membuat :
1. Cairkan tepung beras dengan air, tambahkan garam dan kapur sirih, aduk sampai larut.
2. Panaskan santan hingga mendidih dengan api kecil, masukkan larutan tepung beras, masak hingga tanak. Angkat
3. Potong - potong daun pisang untuk pembungkus papais. Letakkan satu sendok adonan, bungkus dan lipat kedua ujungnya. Susun dalam dandang.
4. Kukus kue hingga matang.
2. RESEP DAN CARA MEMBUAT PAPAIS TIPUNG AMIS
Selain dibuat dengan rasa asin, papais tipung yang biasa ada dalam besek juga bisa dibuat dengan rasa manis. Pemanisnya menggunakan gula aren. Tapi kali ini saya akan menyajikan papais tipung amis (amis dalam bahasa Sunda artinya manis) yang menggunakan perpaduan gula pasir dan gula aren.
250 gram tepung beras
1 sendok makan tepung tapioka
1 sendok makan tepung tapioka
300 ml larutan gula yang dibuat dari 75 gram gula pasir dan 75 gram gula aren direbus dengan 2 lembar daun pandan
seujung sendok teh kapur sirih
seujung sendok teh garam
400 ml santan dari 1/2 butir kelapa
daun pisang untuk membungkus
Cara Membuat :
1. Cairkan tepung beras dengan larutan gula, garam dan kapur sirih. Aduk sampai larut.
2. Panaskan santan hingga mendidih dengan api kecil, masukkan larutan tepung beras, masak hingga tanak. Angkat.
3. Potong - potong daun pisang untuk pembungkus. Letakkan satu sendok adonan, bungkus dan lipat kedua ujungnya. Susun dalam dandang.
4. Kukus kue hingga matang.
3. KUE NAGASARI
Bahan :
250 gram tepung beras
125 gram tepung tapioka
200 gram gula pasir
900 ml santan dari 1 butir kelapa)
3 buah pisang nangka (wanginya yang khas akan menambah aroma kue) potong masing masing 4 bagian dan belah 2
3 buah pisang nangka (wanginya yang khas akan menambah aroma kue) potong masing masing 4 bagian dan belah 2
Garam
daun pisang untuk membungkus
Cara Membuat :
1. Campurkan semua bahan tepung, gula, santan dan garam. Aduk hingga semua bahan larut.
2. Rebus semua bahan (dengan api kecil) hingga tanak.
3. Potong - potong daun pisang untuk pembungkus. Letakkan satu sendok adonan, sisipkan pisang di dalam tepung, bungkus dan lipat kedua ujungnya. Susun dalam dandang.
4. Kukus kue hingga matang.
Semua bahan masing - masing kue menghasilkan kurang lebih 25 hingga 30 buah kue.
Meski terlihat sederhana, sebenarnya kue ini memiliki tantangan tersendiri dalam pembuatannya, yakni menghindari hasil kue nya 'nelak' (lengket di langit - langit mulut) dan rahasia untuk mengatasinya adalah dengan memastikan adonan tepung hasil pemasakan pertama (sebelum dibungkus) memiliki tingkat kematangan yang tepat, jika adonan tepung hasil pematangan pertama ini kurang matang maka akan dihasilkan kue yang 'nelak'. Untuk mengecek kematangan hasil pematangan pertama yang biasa dilakukan adalah dengan mencoba menempelkan daun pisang ke dalam adonan, jika adonan tepung tidak menempel di daun pisang maka bisa dipastikan akan dihasilkan kue yang bagus dan tidak 'nelak'.
No comments:
Post a Comment